Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik ( HMPS AP) merupakan salah satu organisasi mahasiswa Universitas Diponegoro yang aktif berkontribusi dalam melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi khususnya di lingkup program studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. HMPS AP di dalamnya terbagi menjadi beberapa bidang, salah satunya ialah PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia). Setiap bidang memiliki program kerja masing-masing. Salah satu program kerja dari bidang PSDM yaitu ‘Bincang Kaderisasi’ telah terlaksana pada Sabtu, 21 Mei 2022 yang lalu. Bincang kaderisasi merupakan kegiatan yang fokus terhadap pembahasan mengenai pencerdasan perihal kaderisasi, bagaimana alur kaderisasi yang terbaik, dan apakah dampak yang ditimbulkan dari sistem kaderisasi di Universitas Diponegoro khususnya di Program Studi Administrasi Publik. Pada kesempatan kali ini, kegiatan Bincang Kaderisasi diberi judul “Kaderisection 3.0” dan mengangkat tema ‘Atomic Habits: Increase The Self Development To Be The Better Generation As The Inheritors’. Diambilnya tema tersebut dengan harapan kegiatan kaderisection 3.0 dapat memberikan manfaat berupa pembelajaran baru dan pemahaman yang lebih mengenai kaderisasi khususnya dalam sangkut pautnya terhadap pengembangan diri sendiri atau self development.

Kaderisasi sendiri merupakan suatu tahapan dalam pematangan karakter individu dalam sebuah organisasi maupun dalam kehidupan sehari – hari. Adapun dengan kegiatan dan tahapan proses kaderisasi ini diharapkan seorang individu dapat meningkatkan value yang ada di dalam pribadi setiap individu. tujuan utamanya yaitu untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam keberjalanannya setiap pengkader memiliki cara dan media tersendiri untuk mewujudkan kaderisasi yang baik. Seperti yang kita ketahui alur kaderisasi di Universitas Diponegoro terbilang cukup terarah dan sistematis. Perjalanan alur kaderisasi di Universitas Diponegoro diawali dengan PKKMB dan Pendikar, kegiatan tersebut merupakan suatu wadah pengenalan lingkungan universitas dan fakultas secara keseluruhan. Selain itu kita juga mengenal Orientasi Dipo Muda (ODM) yang lingkupnya juga di Universitas. Setelah melewati rangkaian tersebut kita juga mengenal LKMMPD, LKMMD, dan LKMMTM. Rangkaian tersebut memiliki sasaran dan tingkat urgensitasnya tersendiri.

Melalui acara Kaderisection 3.0 ini diharapkan menjadi wadah pencerdasan dan pembukaan wawasan mengenai alur dan urgensitas dari kegiatan kaderisasi itu sendiri. Mengenai pelaksanaannya kegiatan ini berupa semi webinar-talk show dengan dua pembicara yang tentunya kompeten serta relevan dengan materi dari tema yang dibawakan, yaitu Albert Jehoshua Rapha yang merupakan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik angkatan 2017 dan Meisy Marina Beata Munte yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2018. Kedua pembicara tersebut membawakan materi dengan fokus yang berbeda yaitu fokus terhadap urgensitas dari kaderisasi secara umum dan kaderisasi dari sudut pandang psikologi.

Bincang Kaderisasi: Kaderisection 3.0 telah terlaksana dengan lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Tentunya diharapkan bagi seluruh peserta dapat memiliki sudut pandang terbaru mengenai kaderisasi serta urgensitasnya. Terlebih kaderisasi merupakan suatu kebutuhan bagi setiap individu. Sasaran dari kaderisasi itu sendiri tidak hanya seorang organisatoris saja. Namun, seluruh lapisan individu memerlukan proses tersebut demi meningkatkan kualitas diri. Pelaksanaan Kaderisection 3.0 ini bertepatan pula dengan salah satu tahapan kaderisasi yaitu LKMMD. Besar harapan setelah mengikuti rangkaian acara Kaderisection 3.0 ini peserta dapat mengetahui bahwa kegiatan seperti LKMMD tersebut merupakan kegiatan yang memang dibutuhkan dikarenakan manfaat yang kita terima di kemudian hari cukup berdampak pada peningkatan kualitas diri. Diharapkan suatu tahapan yang kita kenal dengan sebutan kaderisasi ini tidak lagi dipandang suatu proses yang kaku dan formal. Karena lebih dari itu kaderisasi merupakan suatu wujud upaya membentuk karakter yang dibutuhkan dalam hal peningkatan kualitas diri pada setiap individu.

Adapun hasil yang telah didapatkan dari pelaksanaan kegiatan Bincang Kaderisasi salah satunya berupa materi pembahasan mengenai pentingnya relevansi kaderisasi di kampus. Globalisasi 2.0 dan visi SDM unggul Indonesia 2045 = 6Cs Collaboration, Communication, Computational thinking, critical thinking, creativity, compassion. Fungsi dari pendidikan tinggi adalah memberdayakan anak- anak muda di bidang networking, social, entrepreneur dan research. Kaderisasi yang baik adalah tidak cenderung atau fokus hanya pada anggota organisasi sehingga untuk targetnya harus dibuat menyeluruh termasuk orang-orang di luar organisasi. Berproses selama di kampus itu perlu dicoba meskipun harus dari nol, dan dari hal-hal kecil. Cara agar bisa konsisten dalam berproses salah satunya sabar dalam berproses dan buka pikiran untuk terus belajar. Pentingnya kehadiran seorang pemimpin yang bisa memberdayakan orang melalui potensi mereka dan berusaha hadir menemani anggotanya selama berproses dan melakukan program kegiatan. Pentingnya keberanian untuk berproses dan terus belajar, salah satunya melalui organisasi karena dengan bergabung dalam organisasi, kita bisa menjadi agent of change atau penggerak baik untuk diri sendiri dan orang lain. Kedua, dalam proses kaderisasi itu perlu diperhatikan outputnya.

Kemudian pada kegiatan ini dihasilkan pula pencerdasan tetang kaderisasi dari sudut pandang psikologi dan pengaruhnya bagi kehidupan. Isi mengenai tahapan membentuk kemampuan kepemimpinan yang meliputi: Pengkaderan Dasar, yaitu memperkenalkan bahwa ada potensi dalam diri setiap individu. Berupaya untuk menstimulasi agar tumbuh jiwa kepemimpinannya, Pengkaderan Menengah, yaitu adanya nilai tanggung jawab kepada atasan maupun bawahannya, memiliki nilai toleransi, menampilkan perilaku ambisi yang tidak berlebihan untuk menjadi yang lebih baik dan juga kondisional, mampu mengendalikan sikap antara kemampuan yang dimiliki dengan realisasi hal yang terjadi dilapangan, Pengkaderan Tinggi, yaitu menjadikan seseorang pemimpin yang visioner dan tanggap serta mampu menilai situasi yang ada dengan adanya didukung dengan tindakan yang dinamis, mampu menerima kritikan ataupun pujian menjadikan motivasi agar organisasi tersebut maju.

Tujuan kaderisasi dalam pembentukan karakter. secara pengetahuan untuk menanamkan pemahaman baru yang dibutuhkan oleh para peserta untuk mengatasi adanya gap kompetensi dari lingkungan maupun tujuan yang dicapai. Secara perilaku dan tindakan untuk mengajarkan cara bertindak, beradaptasi, hingga mampu melakukan pemecahan masalah melalui pengetahuan dan skill yang diajarkan dan melibatkan pengalaman untuk mempraktikan. Tujuan kaderisasi dalam aktualisasi diri. Macam-macamnya:

  • Self actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri)
  • Esteem needs (kebutuhan akan penghargaan)
  • Social needs (kebutuhan akan kasih sayang)
  • Safety needs (kebutuhan akan keamanan)
  • Psysiological needs (kebutuhan fisiologi)

Proses dalam aktualisasi diri: siap untuk berubah, bertanggungjawab, memeriksa dan memiliki motif yang kuat, menggunakan pengalaman-pengalaman positif, siap terlibat dan melakukan pengembangan. Organisasi adalah wadah untuk mengaktualisasi diri dan kaderisasi adalah wadah untuk mempersiapkan individu dalam mencapai aktualisasi dirinya. Evaluasi bentuk kaderisasi = kaku dan tidak adaptif, tidak ada follow up, terpusat pada tujuan menjadi pimpinan, terbatas hanya pada perubahan secara pengetahuan, tidak sesuai dengan kebutuhan. Untuk menyesuaikan kebutuhan, maka diperlukan TNA atau Training Need Analyst: biasanya berupa survey kebutuhan yang diperlukan sebelum melakukan sebuah pelatihan.

Pentingnya keberanian untuk berproses dan terus belajar, salah satunya melalui organisasi karena dengan bergabung dalam organisasi, kita bisa menjadi agent of change atau penggerak baik untuk diri sendiri dan orang lain. Kedua, dalam proses kaderisasi itu perlu diperhatikan outputnya juga, bagaimana nanti para peserta melanjutkan prosesnya, dan bagaimana perubahan dari diri mereka, bagaimana perkembangan karakter diri mereka karena sejatinya tujuan dari kaderisasi itu sendiri adalah untuk memberikan pemahaman dan menanamkan nilai-nilai untuk selanjutnya menciptakan praktik atas pemahaman yang telah ada sebelumnya. Dari sisi psikologis juga, kaderisasi merupakan proses dalam aktualisasi diri dan yang terakhir, untuk menyesuaikan kebutuhan kaderisasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka diperlukan TNA atau Training Need Analyst, berupa survey kebutuhan yang diperlukan sebelum melakukan sebuah pelatihan.